Selasa, 15 Agustus 2017

Youth Series 4: Get (FF BTS Oneshoot J-Hope)

Youth Series 1
Youth Series 2
Youth Series 3
Youth Series 5
Youth Series 6
Youth Series 7






Youth Series 4: Get


Terik matahari begitu bersemangat menyambut musim panas. Jalan kecil di sudut kota Manhattan ini memang tidak pernah lenggang. Orang-orang dari berbagai kalangan berlalu lalang. Kulit hitam, putih, dan jenis-jenis kulit maupun ras lain kesana-kemari. Banyak juga diantaranya yang lebih memilih berbincang-bincang di pinggiran trotoar.
Pria dengan kumis tebal berbalut kemeja pantai dan celana longgar yang menjinjing koper itu mondar-mandir didepan pintu. Dia tampak gelisah. Sesekali dia mengelus kumis tebalnya. Sembilan puluh delapan persen kegiatan yang dia lakukan menunjukkan jika dia sedang menunggu seseorang. Sedangkan dua persennya menahan berak.
            “Hoseok-ah!” Pria itu menoleh, mendapati gadis berkulit coklat dibalut mini dress merah ketat yang memperjelas tonjolan di bagian-bagian tertentu tubuhnya.
            “Ssstt... Nama ku Hobbi disini, ah?” Hoseok, atau Hobbi terserah kalian mau memanggilnya siapa, meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.
            “Ck! Percuma aku memanggilmu Hobbi, samaranmu benar-benar kacau.”
            “Ssstt... Jaga ucapanmu.” Hoseok mendorong kepala gadis itu dengan jari telunjuk. “Kau menghitamkan kulitmu?”
            Gadis itu mengedikkan bahu. “Totalitas.”
Hoseok terkekeh, lalu menarik tangan gadis itu, menuntunnya memasuki bangunan dibalik pintu.
“Aku percaya padamu, Seok. Jika kali ini gagal, kita putus.” Ancam gadis itu setelah mereka menaiki tangga.
“Ssttt...” Hoseok hanya membalas ancaman itu dengan desisan.
Mereka berhenti didepan sebuah pintu. Hoseok mengetuk pintu tiga kali. Pintu terbuka. Seorang lelaki gendut bermata sipit itu menatap Hoseok dan gadisnya bergantian dari balik pintu.
“Are you the guys?” Tanya lelaki gendut itu.
“Yes, We are.” Jawab Hoseok.
Orang gendut itu mengangguk. Mempersilahkan Hoseok dan gadisnya masuk. Ruangan bernuansa biru terang dengan wallpapper awan dan balon udara menyambut mereka. Seseorang yang juga sipit tapi lebih kurus dan kekar duduk disebuah kursi, berkutat dengan buku-buku dan benda-benda aneh diatas meja.
“Ini orangnya.” Kata orang gendut.
Orang kekar itu menoleh. Matanyanya menilik penampilan Hoseok dan gadisnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Setelah puas menilai style mereka, dia membereskan meja, lalu berdiri dengan memasukkan sesuatu yang berkilau kedalam saku jins-nya.
Hoseok berjalan kearah orang kekar itu, begitupun orang kekar itu berjalan menghampiri Hoseok.
“You’re not Korean, Are you?” Tanya orang kekar setelah mereka berhadapan.
“You don’t believe me?” Hoseok menatap tajam lelaki kekar itu, meyakinkan untuk menutupi kebohongannya.
Lelaki kekar itu berbalik, berjalan kearah meja disudut ruangan. “You know, I don’t make transaction with korean.” Lelaki itu mengingatkan Hoseok ketika kembali dengan menjinjing koper hitam.
“I knew.”
“Show me the money first!” Lelaki kekar mengalihkan pandangannya kearah koper yang dijinjing Hoseok.
“Together!”
Orang kekar itu mengangguk. Lalu membuka kopernya, begitupun Hoseok.
Hoseok menyunggingkan senyum melihat koper yang dipegang orang kekar itu penuh dengan paket narkoba. Tapi ekspresi berbeda ditunjukkan oleh orang kekar. Dia mengerutkan dahi, lalu menutup lagi kopernya dan meletakkannya dibawah. Tangannya dengan cepat mengobrak-abrik beberapa gepok uang di koper Hoseok, menghitungnya.
“This is not in agreement.” Orang kekar itu menggertakkan rahang dan melempar tatapan intimidasi pada Hoseok.
Hoseok menarik sudut bibir, menutup koper dan meletakkan dibawah kakinya. Dia melangkah mendekat pada orang kekar. Kemudian dia terkekeh, membuat kumis palsunya yang bergerak naik-turun mau lepas. Sepersekon berikutnya, dia sudah menodongkan pistol ke kepala orang kekar.
“Terima saja uang ini, dan serahkan barangnya padaku. Atau kuhancurkan bisnismu.” Kata Hoseok sinis dan penuh intimidasi. “Aku orang Korea.” Lanjutnya.
Sedangkan orang kekar hanya mampu mengepalkan tangan dan menggertakkan rahang ketika ujung pistol menempel pada keningnya.
“Berikan saja uangmu tanpa mengambil barangnya, dan tutup mulut, atau  pacarmu mati.” Orang gendut, sekarang mengambil alih.
Hoseok menoleh. Sekarang gilirannya menggertakkan rahang setelah mengetahui gadisnya ditodong pistol oleh orang gendut.
Gadis itu menggeleng kecil, alisnya menyatu, matanya mengisyaratkan agar Hoseok tidak melakukan apa yang diminta orang gendut. Tapi apa boleh buat, Hoseok sudah meletakkan koper uangnya dibawah kaki orang kekar  dan mengangkat tangannya. Sedangkan gadis itu, hanya bisa menghela nafas kesal.
Hening. Suara high hills yang mengetuk lantai sama sekali tidak memberi dampak pada keheningan. Gadis itu melangkah kearah Hoseok. Diikuti orang gendut yang masih mengincar kepalanya. Hoseok mengulurkan tangan, Gadis itu menggenggamnya. Keheningan masih bertahan. Entah kenapa hening selalu betah berada disituasi seperti ini.
            1... tidak terjadi apa-apa.
            2... hanya samar-samar suara deru nafas yang menjadi backsound.
            3... Praakk... Pistol orang gendut terjatuh. Gadis itu telah menampik tangan orang gendut dengan kuat. Sebelum orang gendut sempat melakukan balasan, dia memberikan tendangan kuat tepat diwajah orang gendut dengan high hillsnya. Membuat orang gendut hilang kendali.
            Hoseok mengarahkan pistolnya pada orang kekar. Tapi terlambat. Orang kekar sudah berlari membawa dua koper. Orang gendut yang berposisi paling dekat dengan pintu, membuka pintu untuk orang kekar.
Gadis itu meraih pistol orang gendut yang tergeletak dilantai. Mengarahkannya pada orang gendut. Dan menembakkannya. Dorrr!!! Mungkin kalian berharap ada suara seperti itu. Tapi tidak. Pistol itu tidak berfungsi. “Fuck!!” Gadis itu melempar pistol dengan emosi.
“Kau bahkan mengumpat dalam bahasa inggris. Kau benar-benar total.” Bukannya perduli pada orang yang membawa kabur uangnya, Hoseok malah lebih memperhatikan umpatan pacarnya.
Gadis itu mendengus kesal pada Hoseok. Dia ingin mengumpati Hoseok hingga puas. Tapi dia tahu dia tidak punya banyak waktu. Dia berlari mengejar orang-orang itu yang sekarang sudah berada diluar ruangan, berlari menuruni tangga.
Hoseok berlari dibelakang gadisnya. Tangannya masih saja mengarahkan pistol pada orang-orang itu tanpa menembakkannya.
“Cepat tembak, bodoh!” Gadis itu semakin kesal, karena high hills menyulitkannya menuruni tangga.
“Aku tidak bisa! ini kawasan sipil! Nanti urusannya jadi panjang!” Meskipun Hoseok tidak akan menembakkan pistolnya, entah apa maksudnya dia tetap mengarahkan pistol pada kedua orang itu yang kini semakin menjauh.
“Kalau begitu, cepat kejar! Brengsek!” Gadis itu berhenti berlari untuk melepaskan high hills-nya.
“Baiklah.” Akhirnya Hoseok memasukkan pistol ke saku, dan berlali melewati gadis itu. Sedangkan sepasang orang kekar dan gendut sudah berada di depan pintu keluar.
Diluar udara lebih panas dari sebelumnya. Orang-orang yang berlalu-lalang semakin bannyak. Suara riuh semakin bising. Hoseok muncul dari balik pintu keluar. Sebuah Limousine yang sebelumnya parkir didepan bangunan melaju kencang. Hoseok mengeluarkan kunci mobil dan berlari kearah Ferrari yang terparkir didepan gedung. Dia melewatinya. Mini Cooper dibelakang Ferrari mengeluarkan suara ‘bib-bib’ ketika Hoseok menekan tombol pada kuncinya, dan dia segera memasuki Mini Cooper itu. Gadis itu berlari dibelakang Hoseok dan bergegas memasuki mobil yang sama.
“Hoseok -a! Biar aku saja yang mengemudi!” Kata gadis itu terengah-engah ketika memasuki mobil.
“Tidak, aku saja. Tidak ada waktu.” Hoseok menstarter mobil. “Tapi, sebelumnya kita harus memeriksa kaca spion...” Hoseok membenarkan posisi kaca spion.
“Hoseok -ah! Kau gila?! Cepat!” Gadis itu berdecak kesal.
“Kita harus utamakan keselamatan. Pastikan kau memakai sabuk pengaman...” Hoseok memakai sabuk pengaman.
“Cepat, Bodoh!”
“Kau... Kau tidak pakai sabuk pengamanmu?!” Hoseok memerintah dengan ragu-ragu karena takut pada pacarnya. Setidaknya, untuk saat ini.
“Iya! Iya! Baiklah! Cepat atau ku bunuh kau!” Gadis itu memasang sabuk pengaman dengan emosi meluap.
“Mundurkan mobil perlahan...” Mobil Hoseok bergerak mundur sangat pelan.
“Tidak usah mundur perlahan! Cepat! Mundur saja dengan cepat!!” Emosi gadis itu kini berada diambang batas.
“Ya, baiklah! Mundur dengar cepat...” Mobil Hoseok mundur dengan cepat. Namun terlampau cepat dari dugaannya.
Braaaaakk!!!
Pecahan kaca berserakan dan air menggenang disekitar mobil. Tiga ekor ikan kecil mengepak-ngepak di atap Mini Cooper Heosok. Mereka menabrak toko aquarium.
“Haruskah aku memutuskanmu lagi, Seok?” Gadis itu menghela nafas pasrah.
“Sepertinya, tidak.” Hoseok mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sesuatu yang berkilau.
Gadis itu menoleh. Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka ketika melihat kalung berlian dengan desain mewah diatas telapak tangan Hoseok. “Kapan kau menganmbil itu darinya?”
            “Apa kau perduli tentang itu?” Tanya Hoseok setengah mencibir.
            “Tidak.” Gadis itu menggeleng. Dia tersenyum. “Aku mencintaimu, Seok.”
            “Aku juga.” Hoseok membuka lengannya.
            Gadis itu melepas sabuk pengaman. Mendekatkan tubuhnya pada Hoseok, dan memeluknya erat. Hoseok pun membalas pelukan itu tidak kalah erat. Tidak perduli ada seorang ibu-ibu gendut berkulit hitam yang mengumpat dan memukuli kaca mobil mereka.

-FIN-

Aku harap kalian suka. aku harap kalian menyunggingkan sedikit senyum ketika membacanya.

Eaaa!!! Eaaa!!!

Thanks guys! Youth Series 5 is here!
  

1 komentar:

  1. Baccarat - A Practical Guide for the Modern Game - Wolverione
    Baccarat is a card game that's very similar to the traditional poker game. The goal is to score kadangpintar a number of tricks before 카지노 the 바카라 dealer has

    BalasHapus

 

Lotus Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang