Youth Series 2
Youth Series 3
Youth Series 5
Youth Series 6
Youth Series 7
Youth
Series 4: Get
Terik
matahari begitu bersemangat menyambut musim panas. Jalan kecil di sudut kota
Manhattan ini memang tidak pernah lenggang. Orang-orang dari berbagai kalangan
berlalu lalang. Kulit hitam, putih, dan jenis-jenis kulit maupun ras lain
kesana-kemari. Banyak juga diantaranya yang lebih memilih berbincang-bincang di
pinggiran trotoar.
Pria
dengan kumis tebal berbalut kemeja pantai dan celana longgar yang menjinjing
koper itu mondar-mandir didepan pintu. Dia tampak gelisah. Sesekali dia
mengelus kumis tebalnya. Sembilan puluh delapan persen kegiatan yang dia
lakukan menunjukkan jika dia sedang menunggu seseorang. Sedangkan dua persennya
menahan berak.
“Hoseok-ah!” Pria itu menoleh, mendapati gadis berkulit
coklat dibalut mini dress merah ketat yang memperjelas tonjolan di
bagian-bagian tertentu tubuhnya.
“Ssstt... Nama ku Hobbi disini, ah?” Hoseok, atau Hobbi
terserah kalian mau memanggilnya siapa, meraih tangan gadis itu dan
menggenggamnya.
“Ck! Percuma aku memanggilmu Hobbi, samaranmu benar-benar
kacau.”
“Ssstt... Jaga ucapanmu.” Hoseok mendorong kepala gadis
itu dengan jari telunjuk. “Kau menghitamkan kulitmu?”
Gadis itu mengedikkan bahu. “Totalitas.”
Hoseok
terkekeh, lalu menarik tangan gadis itu, menuntunnya memasuki bangunan dibalik
pintu.
“Aku
percaya padamu, Seok. Jika kali ini gagal, kita putus.” Ancam gadis itu setelah
mereka menaiki tangga.
“Ssttt...”
Hoseok hanya membalas ancaman itu dengan desisan.
Mereka
berhenti didepan sebuah pintu. Hoseok mengetuk pintu tiga kali. Pintu terbuka.
Seorang lelaki gendut bermata sipit itu menatap Hoseok dan gadisnya bergantian dari
balik pintu.
“Are
you the guys?” Tanya lelaki gendut itu.
“Yes,
We are.” Jawab Hoseok.
Orang
gendut itu mengangguk. Mempersilahkan Hoseok dan gadisnya masuk. Ruangan
bernuansa biru terang dengan wallpapper awan dan balon udara menyambut mereka.
Seseorang yang juga sipit tapi lebih kurus dan kekar duduk disebuah kursi,
berkutat dengan buku-buku dan benda-benda aneh diatas meja.
“Ini
orangnya.” Kata orang gendut.
Orang
kekar itu menoleh. Matanyanya menilik penampilan Hoseok dan gadisnya dari ujung
kaki hingga ujung kepala. Setelah puas menilai style mereka, dia membereskan
meja, lalu berdiri dengan memasukkan sesuatu yang berkilau kedalam saku
jins-nya.
Hoseok
berjalan kearah orang kekar itu, begitupun orang kekar itu berjalan menghampiri
Hoseok.
“You’re
not Korean, Are you?” Tanya orang kekar setelah mereka berhadapan.
“You
don’t believe me?” Hoseok menatap tajam lelaki kekar itu, meyakinkan untuk
menutupi kebohongannya.
Lelaki
kekar itu berbalik, berjalan kearah meja disudut ruangan. “You know, I don’t
make transaction with korean.” Lelaki itu mengingatkan Hoseok ketika kembali
dengan menjinjing koper hitam.
“I
knew.”
“Show
me the money first!” Lelaki kekar mengalihkan pandangannya kearah koper yang
dijinjing Hoseok.
“Together!”
Orang
kekar itu mengangguk. Lalu membuka kopernya, begitupun Hoseok.
Hoseok
menyunggingkan senyum melihat koper yang dipegang orang kekar itu penuh dengan
paket narkoba. Tapi ekspresi berbeda ditunjukkan oleh orang kekar. Dia
mengerutkan dahi, lalu menutup lagi kopernya dan meletakkannya dibawah.
Tangannya dengan cepat mengobrak-abrik beberapa gepok uang di koper Hoseok,
menghitungnya.
“This is not in
agreement.” Orang kekar itu menggertakkan rahang dan melempar tatapan
intimidasi pada Hoseok.
Hoseok
menarik sudut bibir, menutup koper dan meletakkan dibawah kakinya. Dia melangkah
mendekat pada orang kekar. Kemudian dia terkekeh, membuat kumis palsunya yang
bergerak naik-turun mau lepas. Sepersekon berikutnya, dia sudah menodongkan
pistol ke kepala orang kekar.
“Terima saja uang ini,
dan serahkan barangnya padaku. Atau kuhancurkan bisnismu.” Kata Hoseok sinis dan penuh
intimidasi. “Aku orang Korea.” Lanjutnya.
Sedangkan orang kekar
hanya mampu mengepalkan tangan dan menggertakkan rahang ketika ujung pistol
menempel pada keningnya.
“Berikan saja uangmu
tanpa mengambil barangnya, dan tutup mulut, atau pacarmu mati.” Orang gendut, sekarang
mengambil alih.
Hoseok
menoleh. Sekarang gilirannya menggertakkan rahang setelah mengetahui gadisnya
ditodong pistol oleh orang gendut.
Gadis itu menggeleng
kecil, alisnya menyatu, matanya mengisyaratkan agar Hoseok tidak melakukan apa
yang diminta orang gendut. Tapi apa boleh buat, Hoseok
sudah meletakkan koper uangnya dibawah kaki orang kekar dan mengangkat tangannya. Sedangkan gadis itu,
hanya bisa menghela nafas kesal.
Hening. Suara high
hills yang mengetuk lantai sama sekali tidak memberi dampak pada keheningan.
Gadis itu melangkah kearah Hoseok.
Diikuti orang gendut yang masih mengincar kepalanya. Hoseok mengulurkan tangan,
Gadis itu menggenggamnya. Keheningan masih bertahan. Entah kenapa hening selalu
betah berada disituasi seperti ini.
1...
tidak terjadi apa-apa.
2...
hanya samar-samar suara deru nafas yang menjadi backsound.
3...
Praakk... Pistol orang gendut terjatuh. Gadis itu telah menampik tangan orang
gendut dengan kuat. Sebelum orang gendut sempat melakukan balasan, dia
memberikan tendangan kuat tepat diwajah orang gendut dengan high hillsnya.
Membuat orang gendut hilang kendali.
Hoseok mengarahkan pistolnya
pada orang kekar. Tapi terlambat. Orang kekar sudah berlari membawa dua koper.
Orang gendut yang berposisi paling dekat dengan pintu, membuka pintu untuk
orang kekar.
Gadis itu meraih pistol
orang gendut yang tergeletak dilantai. Mengarahkannya pada orang gendut. Dan menembakkannya.
Dorrr!!! Mungkin kalian berharap ada suara seperti itu. Tapi tidak. Pistol itu
tidak berfungsi. “Fuck!!” Gadis itu melempar pistol dengan emosi.
“Kau bahkan mengumpat
dalam bahasa inggris. Kau benar-benar total.” Bukannya perduli pada orang yang
membawa kabur uangnya, Hoseok
malah lebih memperhatikan umpatan pacarnya.
Gadis itu mendengus
kesal pada Hoseok.
Dia ingin mengumpati Hoseok
hingga puas. Tapi dia tahu dia tidak punya banyak waktu. Dia berlari mengejar
orang-orang itu yang sekarang sudah berada diluar ruangan, berlari menuruni
tangga.
Hoseok
berlari dibelakang gadisnya. Tangannya masih saja mengarahkan pistol pada
orang-orang itu tanpa menembakkannya.
“Cepat tembak, bodoh!”
Gadis itu semakin kesal, karena high hills menyulitkannya menuruni tangga.
“Aku tidak bisa! ini
kawasan sipil! Nanti urusannya jadi panjang!” Meskipun Hoseok tidak akan menembakkan
pistolnya, entah apa maksudnya dia tetap mengarahkan pistol pada kedua orang
itu yang kini semakin menjauh.
“Kalau begitu, cepat
kejar! Brengsek!” Gadis itu berhenti berlari untuk melepaskan high hills-nya.
“Baiklah.” Akhirnya Hoseok memasukkan pistol ke
saku, dan berlali melewati gadis itu. Sedangkan sepasang orang kekar dan gendut
sudah berada di depan pintu keluar.
Diluar
udara lebih panas dari sebelumnya. Orang-orang yang berlalu-lalang semakin bannyak.
Suara riuh semakin bising. Hoseok muncul dari balik pintu keluar. Sebuah
Limousine yang sebelumnya parkir didepan bangunan melaju kencang. Hoseok
mengeluarkan kunci mobil dan berlari kearah Ferrari yang terparkir didepan
gedung. Dia melewatinya. Mini Cooper dibelakang Ferrari mengeluarkan suara ‘bib-bib’
ketika Hoseok menekan tombol pada kuncinya, dan dia segera memasuki Mini Cooper
itu. Gadis itu berlari dibelakang Hoseok dan bergegas memasuki mobil yang sama.
“Hoseok
-a! Biar aku saja yang mengemudi!” Kata gadis itu terengah-engah ketika
memasuki mobil.
“Tidak,
aku saja. Tidak ada waktu.” Hoseok menstarter mobil. “Tapi, sebelumnya kita
harus memeriksa kaca spion...” Hoseok membenarkan posisi kaca spion.
“Hoseok
-ah! Kau gila?! Cepat!” Gadis itu berdecak kesal.
“Kita
harus utamakan keselamatan. Pastikan kau memakai sabuk pengaman...” Hoseok
memakai sabuk pengaman.
“Cepat,
Bodoh!”
“Kau...
Kau tidak pakai sabuk pengamanmu?!” Hoseok memerintah dengan ragu-ragu karena
takut pada pacarnya. Setidaknya, untuk saat ini.
“Iya!
Iya! Baiklah! Cepat atau ku bunuh kau!” Gadis itu memasang sabuk pengaman
dengan emosi meluap.
“Mundurkan
mobil perlahan...” Mobil Hoseok bergerak mundur sangat pelan.
“Tidak
usah mundur perlahan! Cepat! Mundur saja dengan cepat!!” Emosi gadis itu kini
berada diambang batas.
“Ya,
baiklah! Mundur dengar cepat...” Mobil Hoseok mundur dengan cepat. Namun
terlampau cepat dari dugaannya.
Braaaaakk!!!
Pecahan
kaca berserakan dan air menggenang disekitar mobil. Tiga ekor ikan kecil
mengepak-ngepak di atap Mini Cooper Heosok. Mereka menabrak toko aquarium.
“Haruskah
aku memutuskanmu lagi, Seok?” Gadis itu menghela nafas pasrah.
“Sepertinya,
tidak.” Hoseok mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sesuatu yang berkilau.
Gadis
itu menoleh. Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka ketika melihat kalung
berlian dengan desain mewah diatas telapak tangan Hoseok. “Kapan kau menganmbil
itu darinya?”
“Apa kau perduli tentang itu?” Tanya Hoseok setengah
mencibir.
“Tidak.” Gadis itu menggeleng. Dia tersenyum. “Aku
mencintaimu, Seok.”
“Aku juga.” Hoseok membuka lengannya.
Gadis itu melepas sabuk pengaman. Mendekatkan tubuhnya
pada Hoseok, dan memeluknya erat. Hoseok pun membalas pelukan itu tidak kalah
erat. Tidak perduli ada seorang ibu-ibu gendut berkulit hitam yang mengumpat
dan memukuli kaca mobil mereka.
-FIN-
Aku harap kalian suka. aku harap kalian menyunggingkan sedikit senyum ketika membacanya.
Eaaa!!! Eaaa!!!
Thanks guys! Youth Series 5 is here!
Aku harap kalian suka. aku harap kalian menyunggingkan sedikit senyum ketika membacanya.
Eaaa!!! Eaaa!!!
Thanks guys! Youth Series 5 is here!
Baccarat - A Practical Guide for the Modern Game - Wolverione
BalasHapusBaccarat is a card game that's very similar to the traditional poker game. The goal is to score kadangpintar a number of tricks before 카지노 the 바카라 dealer has